Oleh : Khariroh Ali

Tema kepemimpinan perempuan selalu menarik untuk diperbincangkan, terlebih di zaman modern ini dimana semakin banyak kaum perempuan yang berkiprah di ruang-ruang publik dan sukses menjadi pemimpin di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, militer, pendidikan dan bahkan agama. Keberhasilan para pemimpin perempuan tersebut untuk membawa Negara mereka semakin maju dan makmur seolah-oleh menepis stereotype yang berkembang di masyarakat bahwa perempuan tidak layak untuk menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan. 

Di Indonesia sendiri, munculnya pemimpin perempuan bukanlah sesuatu yang baru. Negara kita pernah memiliki presiden perempuanya itu Megawati Soekarnoputri (2011-2014), dan jauh sebelum masa prakemerdekaan, di berbagai wilayah Nusantara banyak perempuan telah menjadi pemimpin, sulthanah dan ratu. Yang paling menonjol adalah sejarah heroik para pemimpin perempuan dari Aceh, sebuah wilayah yang dikenal sangat religius sehingga disebut sebagai Serambi Mekkah (the Veranda of Mecca). Semasa kolonialisme berlangsung di Indonesia, tak ada satupun penguasa Aceh yang mau bekerjasama dengan penjajah. Ini menyebabkan Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak pernah dikuasai oleh penjajah.

Salah satu perempuan Muslimah dari Aceh yang kesuksesannya jarang sekali dituliskan dalam buku-buku sejarah di sekolah dan nyaris terlupakan dalam perbincangan tentang pemimpin perempuan adalah Laksamana Malahayati.

Siapakah Laksamana Malahayati?

Meskipun dia bukan sulthanah yang memimpin kerajaan Aceh, namun gelar yang disandangnya tidak kalah bergengsiya itu Laksamana. Bayangkan, pada awal abad ke-16 kita sudah memiliki seorang perempuan Muslimah yang memimpin armada perang melawan Belanda dan bernegoisasi dengan utusan khusus Ratu Elisabeth I dari Inggris! Dan zaman itu para perempuan di Barat masih berada dalam kondisi jumud, tersubordinasi dan hanya menjadi“koncowingking”dari kaum laki-laki.

Nama aslinya adalah Keumalahayati. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Malahayati pada awalnya dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di meunasah/pesantren, Malahayati meneruskan pendidikannya ke akademi militer kerajaan “Ma’had Baitul Maqdis”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah. Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula ia bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum diketahui dengan pasti.

Kisah perjuangan Malahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, tetapi dua laksamana dan ribuan prajuritnya gugur di medan perang. Setelah suaminya (sang laksamana) gugur, Malahayati bertekad meneruskan perjuangan suaminya. Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Malahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah para janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Malahayati dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. Armada ini berkekuatan 2.000 orang.

Inong Balee adalah pasukan khusus perempuan yang terdiri dari para janda. Inoong Balee membangun benteng yang kokoh di Teluk Kreung Raya. Benteng ini sering disebut juga benteng Malahayati. Benteng Malahayati  ini berfungsi sebagai tempat pendidikan bagi 2000 janda anggota pasukan Inong Balee. Melalui benteng ini mereka mengawasi perairan Selat Malaka, mereka mengintai armada-armada Portugis,  Belanda, dan Inggris. Malahayati berhasil melatih janda-janda tersebut menjadi pasukan marinir yang tangguh.

Pemimpin Militer dan Diplomat Ulung

Malahayati semakin terkenal setelah sukes “menghajar” kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawansatu di geladak kapal pada 11 September 1599, sedang adiknya Frederich de Houtman tertawan dan dipenjarakan selama kurang lebih satu tahun. Peristiwa ini menggegerkan bangsa Eropa, khususnya Belanda.

Selain dikenal sebagai pemimpin militer, Malahayati juga seorang diplomat ulung dan ahli politik dalam negeri. Dialah yang menjalin ikatan persahabatan dengan utusan Ratu Elisabeth I dari Inggris, yakni Sir James Lancaster pada 6 Juni 1602. Dia pula yang menyelesaikan intrik istana dimana tatkala Sultan Alaiddin Ali yang telah berumur 94 tahun di “kudeta” oleh putra mahkotanya sendiri yang kurang mampu memerintah. Akhirnya Malahayati melakukan manuver cerdik melengserkan putra mahkota tersebut dan mengangkat Darmawangsa sebagai Sultan baru berjuluk Sultan Iskandar Muda yang legendaris itu (1607~ 1636).

Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoel Hamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari sebuah kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Belanda. Banyak catatan orang asing tentang Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketika itu diakui oleh Negara Belanda, Portugis, Inggris, Arab, China dan India.

Malahayati menjabat sebagai laksmana kerajaan Aceh dalam waktu yang cukup lama, yaitu selama masa kepemimpinan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604M). Malahayati berhasil mengantarkan Aceh menjadi kerajaan yang disegani baik oleh kawan maupun lawan. Malahayati berhasil menjaga stabilitas Selat Malaka. Kehebatannya diakui oleh semua bangsa yang berhubungan dengan kerajaan Aceh.

Malahayati wafat dalam pertempuran di laut Teluk Krueng Raya dan dimakamkan tidak jauh dari Benteng Inong Balee, sekitar 3 Km dari benteng dan berada di atas bukit. Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Sekarang, nama Malahayati diabadikan di mana-mana, sebagainama jalan, pelabuhan, rumah sakit, sebuah universitas di Bandar Lampung, Akademi Maritim di Banda Aceh serta kapal perang, KRI Malahayati. 

Meneladani Sang Pejuang

Dari kisah Laksamana Malahayati di atas, apa yang bisa kita teladani di abad ini dalam kaitannya dengan kiprah pemimpin perempuan? Meski namanya dan perjuanganya tidak seharum dan se-terkenal R.A. Kartini atau Cut Nya’ Dien, Malahayati menunjukkan bahwa kaum perempuan mampu menjadi pemimpin di bidang yang sangat maskulin seperti militer dan pertahanan. Sebagai perempuan, Malahayati berani menuntut hak-haknya untuk memperoleh akses, kontrol dan berpartisipasi dalam kehidupan politik dan ketahanan-keamanan negara. Dan diahidup di abad 16!

Bagaimana dengan partisipasi perempuan di ranah politik dan ketahanan-keamanan Negara saat ini? Kenyataannya perempuan masih mengalami keterpinggiran di wilayah tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain dualisme ranah domestik dan publik di dalam masyarakat patriarkhi. Hambatan lainnya adalah lingkungan keluarga yang seringkali tidak mendukung perempuan untuk menjadi pemimpin politik. Perempuan harus berusaha keras untuk menyakinkan lingkungan keluarga seperti mendapat izin suami, orang tua, dan anak-anak untuk berkompetisi merebut jabatan publik. Hal semacam ini biasanya tidak dialami oleh kaum laki-laki.

Fakta sosial politik yang memarginalkan peran perempuan di dalam kegiatan politik tentu saja bertentangan dengan catatan-catatan yang tertera di dalam sejarah Islam. Kiprah Malahayati mengingatkan kita akan sosok ‘Aisyah, isteri Nabi Muhammad saw, yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan politik. Di dalam perang Jamal (perang unta), ‘Aisyah memimpin perang bersama Zubayr dan Thalhah untuk melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Meskipun pihak ‘Aisyah kalah, namun keberaniannya untuk memimpin pasukan yang cukup besar menunjukkan bahwa di dalam Islam perempuan boleh menjadi pemimpin. {} Riri Khariroh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here